Gue pernah ngobrol sama tetangga sendiri, Mas Budi, yang udah hampir setahun nganggur setelah lulus SMK. Tiap pagi dia bikin CV baru, ganti foto, ganti kata-kata, kirim ke puluhan lowongan. Tapi kok ya sepi terus. Pas gue lihat CV-nya, baru deh gue ngerti masalahnya di mana. Bukan karena dia kurang usaha, tapi karena ada beberapa kesalahan yang diulang terus tanpa sadar.
Nah, ini yang mau gue bahas. Banyak warga di kota kecil atau desa kayak kita ini yang sebenarnya punya potensi besar, tapi gagal di tahap awal karena kesalahan-kesalahan umum. Bukan salah mereka juga sih, soalnya nggak ada yang ngajarin. Sekolah ngajarin matematika, tapi nggak ngajarin cara ngelamar kerja yang bener.
Kesalahan Pertama: Kirim CV yang Sama ke Semua Lowongan
Ini yang paling sering gue temuin. Satu CV dipakai buat lamar jadi admin, dipakai lagi buat lamar jadi operator produksi, dipakai lagi buat lamar jadi kasir. Isinya ya gitu-gitu aja, generik banget.
Masalahnya, perusahaan itu beda-beda. Yang dicari admin ya orang yang teliti dan rapi. Yang dicari operator ya orang yang siap kerja shift dan kuat fisik. Kalau CV kamu isinya cuma "saya orangnya jujur, disiplin, dan bisa bekerja sama dalam tim" — itu semua orang juga bisa nulis.
Baca juga: Gue Baru Sadar Soal Gaji Itu Setelah Tiga Kali Nego
Cara ngatasinnya gampang kok. Sebelum kirim, baca lagi iklan lowongannya. Lihat kata kunci yang mereka pakai. Kalau mereka nulis "diutamakan bisa Microsoft Excel", ya tulis di CV kamu kalau kamu bisa Excel. Kalau mereka butuh yang siap lembur, ya sebutin kalau kamu fleksibel soal jam kerja. Nggak perlu bikin CV baru dari nol tiap kali, cukup sesuaikan bagian pengalaman dan keahliannya aja.
Gue inget dulu pas pertama kali ngelamar kerja, gue juga gini. Kirim CV ke mana-mana pakai template yang sama, hasilnya ya nol. Baru setelah gue mulai nulis CV yang nyambung sama lowongannya, mulai ada yang nelpon.
Kesalahan Kedua: Nggak Siap Ditanya Soal Gaji
Ini lucu tapi nyata. Banyak orang dari kampung yang pas ditanya "ekspektasi gaji kamu berapa?" langsung bengong, terus jawab "terserah Bapak/Ibu aja" atau "yang penting halal". Niatnya sih sopan, tapi di mata HRD itu kelihatan kayak nggak siap.
Kenapa? Karena perusahaan jadi ragu. Apa kamu tahu nilai dirimu sendiri? Apa kamu udah cari tahu standar gaji di posisi itu? Kalau kamu jawab "terserah", mereka malah bingung mau kasih berapa.
Sebelum wawancara, cari tahu dulu kisaran gaji untuk posisi itu. Tanya teman yang udah kerja di bidang serupa, atau lihat info lowongan lain yang mencantumkan gaji. Jadi kamu punya angka, bukan cuma senyum.
Nggak usah takut kelihatan mata duitan. Kamu kerja ya buat cari uang, itu wajar. Yang penting caranya sopan. Misalnya: "Dari info yang saya dapat, kisaran untuk posisi ini sekitar tiga sampai empat juta. Tapi saya terbuka untuk diskusi sesuai tanggung jawab dan tunjangan yang diberikan." Udah, gitu aja. Jauh lebih baik daripada bengong.
Kesalahan Ketiga: Datang Wawancara Tanpa Riset Sedikit Pun
Gue pernah denger cerita dari teman yang kerja di HRD sebuah pabrik di kecamatan. Ada pelamar yang datang wawancara, ditanya "kamu tahu nggak perusahaan ini bergerak di bidang apa?" Jawabannya: "Belum tahu, Pak." Padahal nama perusahaannya udah jelas tertulis di undangan, dan info produknya ada di halaman depan pabrik.
Ini kesalahan yang kelihatan sepele tapi dampaknya besar. Pewawancara jadi mikir: orang ini melamar tapi nggak peduli sama tempat yang dilamar. Gimana nanti kalau kerja, apa dia juga nggak peduli?
Risetnya nggak perlu ribet kok. Cukup cari tahu:
- Apa produk atau jasa perusahaan itu
- Sejak kapan berdiri, kalau ada infonya
- Siapa yang akan jadi atasan kamu (kalau disebutkan di lowongan)
- Job deskripsi posisi yang kamu lamar, baca ulang sampai paham
Itu aja. Nggak perlu hafal sejarah perusahaan dari tahun 1980. Yang penting kamu tahu kamu melamar ke mana. Ini nunjukin kalau kamu serius.
Buat yang Nggak Punya Internet Stabil di Rumah
Gue tahu, di beberapa desa sinyal masih susah. Tapi riset bisa dilakukan kok. Tanya tetangga yang kerja di sana, atau mampir ke warung kopi yang ada wifi-nya. Atau kalau ada brosur lowongan yang ditempel di kantor desa, baca baik-baik. Informasi kecil kayak gitu sering diabaikan padahal berguna banget.
Kesalahan Keempat: Ngomong Terlalu Jujur Soal Alasan Berhenti Kerja
Ini khusus buat yang udah pernah kerja sebelumnya. Pas ditanya "kenapa berhenti dari pekerjaan lama?", banyak yang jawab terlalu blak-blakan. "Bosnya galak", "gajinya kecil", "temannya nggak enak".
Jujur itu bagus, tapi ada waktunya. Dalam wawancara, kamu nggak perlu cerita semua hal buruk tentang tempat kerja lama. Pewawancara bisa jadi mikir: nanti kalau kerja di sini, dia juga bakal ngomongin keburukan kita ke orang lain.
Gimana cara jawab yang bener? Fokus ke alasan yang membangun. Misalnya: "Saya ingin cari pengalaman baru di bidang yang lebih sesuai dengan keahlian saya" atau "Saya ingin bekerja di tempat yang bisa memberi saya kesempatan berkembang lebih jauh". Itu jujur, tapi tetap sopan.
Kalau memang alasannya karena gaji, bisa bilang: "Saya butuh penghasilan yang lebih bisa mencukupi kebutuhan keluarga." Itu manusiawi dan nggak menjelekkan siapa pun. Intinya, ceritakan alasan yang mengarah ke depan, bukan mengaduk-aduk masa lalu.
Yang Paling Penting: Jangan Berhenti Ngelamar
Gue mau tutup dengan satu hal yang sering dilupakan. Kesalahan terbesar dari semua kesalahan tadi adalah berhenti melamar karena udah capek ditolak. Padahal, banyak orang di kota kecil kita yang akhirnya dapat kerja bukan karena mereka paling pintar, tapi karena mereka nggak berhenti nyoba sambil terus memperbaiki diri.
Mas Budi yang gue ceritain di awal? Setelah gue bantu benerin CV-nya dan latihan jawab pertanyaan wawancara, dia akhirnya keterima jadi staf gudang di perusahaan distribusi di kota kabupaten. Gajinya nggak besar, tapi dia seneng. Dan yang penting, dia udah tahu cara mainnya.
Jadi tiap pagi, sebelum kamu bikin CV baru lagi, cek dulu empat hal tadi. Sesuaikan CV sama lowongan, siapkan jawaban soal gaji, riset sedikit soal perusahaan, dan latih cara jawab pertanyaan soal kerjaan lama. Nggak perlu sempurna, yang penting nggak ngulang kesalahan yang sama terus-terusan.